3 Okt 2010

SS stage 01

ini juga diambil dari facebook saya..enjoy ^^


 
"SAMPAI MATI"
author : eldhine
_______

Pagi itu,
Senin – 06.58
Dua orang siswa berseragam putih abu-abu buru-buru ke sekolah.
“aaakh tinggal 2 menit !!!!!!” teriak cewek yang duduk di bagian belakang. Ia mengamati pergerakan jarum jam arlojinya yang terus bergerak perlahan.
“hah ? masa ? gak keburu nih !!!” panik cewek yang duduk di bagian depan. Ia mengendarai motornya dengan tidak pasti. “jam-mu itu kecepetan ato kagak ?” tanyanya sambil masih berkonsentrasi ke depan.
“kagak. Ini cocok dengan sekolahan. Hadoh gimana nih tinggal semenit !!!” cewek yang di belakang tambah panik. “gimana nih nanti di hukum ?”
“halah kalo di hukum kitakan berdua. Tapi ini hari Senini ya ? hiii....” cewek yang di depan membayangkan hukuman yang akan mereka terima.
“heey jangan bengong...” cewek yang di belakang menggoncang tubuh temannya itu.
“uuugh ini tadi gara-gara bangun kesiangan. Kita ngebut ya ?” saran cewek yang memegang kendali.
“ngebut ? hmm...iya deh, tapi pelan-pelan ya” cewek yang belakang kurang yakin. Dilihatnya speedometer yang semakin naik. Ia berpegangan pada pundak temannya.
Motor yang mereka kendarai mulai menyalip kendaraan lain. Dengan kecepatan yang bisa dibilang tinggi. Mereka mulai menyalip mobil box putih yang ada di depan mereka. Ketika motor mereka pindah jalur ke kanan, sebuah truk dari arah deapan melaju ke arah mereka.
.
.
HAH.
Ia membuka mata. Terkejut. Dilihat sekelilingnya.
“kelas ?” pikirnya. “ya ampun aku ketiduran” ia mengucek matanya. Dirapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Ada seorang guru separuh baya sedang menerangkan pelajaran di depan kelas. Teman-temannya yang lain sibuk menyimak, termasuk teman sebangkunya. Ia pun mengatur posisi duduknya. Beberapa menit kemudian, guru itu memandang ke seluruh kelas. Dan tatapannya berhenti di salah satu meja.
GLEK. “ya ampun dilihatin” ia tertunduk bingung. Matanya tertuju ke mejanya, “heh buku-bukuku kemana ??” ia melihat mejanya yang kosong. Ia panik walau guru itu sudah tidak melihat ke arahnya.
Ia merogoh laci mejanya, “loh tasku mana ?”. Ia melongok ke dalam laci yang kosong itu, “tasku manaaaa ?” paniknya.
“hey liat tasku ??” tanyanya pada teman di sebelahnya. Namun ia tidak merespon. Lama-lama ia jengkel lalu memanggil-manggil teman yang duduk di depannya. Kebetulan teman sebangkunya ikut memanggil orang itu. Akhirnya orang yang dipanggil itu menoleh setelah sekian kali dipanggil.
“iikh kebiasaan kalo dipanggil ga denger” omelnya.
“dasar dipanggil kok ga noleh-noleh” tiru teman sebangkunya.
Yang duduk di depan itu cengar-cengir, “hehe kenapa ?”
“liat tasku ga ? kok di laci ga ada ?” tanyanya panik. Tapi yang diajak bicara hanya mangut-mangut dan hanya menoleh pada teman sebangkunya itu. Bahkan teman sebangkunya tidak mendengar pertanyaannya.
“hey aku tuh nanya ke kalian !” teriaknya. Ia melambai-lambaikan tangan ke depan wajah mereka. Tapi sama saja. Malah orang yang duduk di depannya itu memandang kosong ke arah bangkunya. Seakan tak ada orang yang duduk di sana.
“iikh...” tangannya mulai bertindak. Ia bermaksud menepuk lengan mereka. Namun, begitu sampai ke lengan mereka, tangannya tidak isa memegangnya. Tembus.
Ia membelalakan mata. Bingung. “kenapa ini ?” ia melihat tangannya yang transparan. Tembus pandang.
“sssst...tidak boleh ribut saat pelajaran” seseorang menepuk bahunya.
Ia menoleh kaget, “kamu ? ngapain ada di kelasku ? ntar gurunya lihat loh !”. Ia panik. Dirangkulnya tubuh sahaatnya itu hingga tubuhnya tertutupi meja.
“ngapain ke sini ?” bisiknya. Tapi ia melihat sesuatu yang beda di tubuh sahabatnya. “tubuhmu kenapa transparan juga ?”. Dari situ ia bisa melihat dengan jelas orang yang ada di belakang tubuh sahabatnya.
“ngomong apaan kamu ?” sahabatnya berdiri dan tangannya mencubit pipi orang yang ada di depannya. “kita ini sudah mati sayang” sahabatnya tersenyum halus dan masih tetap memegang pipi orang di depannya.
“ma...mati ?”
Sahabatnya itu mengangguk, “iya, kita sudah mati. Jadi ga ada yang melihat kita”
“ma...mati. mati ?” ia masih tidak percaya, “kenapa ?”
Sahabatnya menekuk kakinya, lalu menatap dalam-dalam ke arah orang yang ada di depannya, “ingat tidak, waktu kita buru-buru berangkat ke sekolah ? nah, lalu kita kecelakaan disitu”
“kecelakaan ? kok bisa ? kamukan sudah menghindari truk yang ada di depan itu”
“gini ceritanya, waktu itu memang aku sudah menghindari truk itu. Kita kembali ke jalur kiri, tapi ternyata di belakang kita ada mobil kijang. Bagian belakang ditabrak sehingga motor kita nabrak mobil box yang ada di depan”
Ia menurunkan air matanya. Deras jatuh bercucuran.
“jadi itu nyata ?” ia terisak-isak. Sahabatnya mengangguk. “pantas tidak ada yang mendengarku. Tapi...emang tidak ada yang pernah mau mendengarku” ia semakin terisak. Sahabatnya mengelus-elus kepalanya.
“tapi...kenapa tidak ada yang sedih , tidak ada yang melayat, tidak ada......”
“hey” sahabatnya memotong, “kamu nglindur ya ? kita meninggal hari Senin, sedang sekarang sudah hari rabu”
“tapi emang tidak ada yang sedih kalo aku mati !!” ia semakin kesal.
Sahabatnya kembali memeluk kepalanya, “kamu ini bicaranya suka ngelantur ya ? mereka sebentar lagi ujian. Seharusnya kita juga ujian, tapi takdir berkata lain. Jadi pantaskan kalo mereka tidak berlarut-larut”
Ia melepas pelukan sahabatnya. Sepertinya ia sedikit mengerti. “iya aku mengerti. Sampai mati pun aku tetep sendiri” ia kembali murung.
“BODOH” ujar sahabatnya sedikit kesal, “kan ada aku”
Ia melihat ke arah sahabatnya.
“kamu itu tidak sendiri” ujar sahabatnya, “ada aku yang nemani. Kita sahabatkan ? kalo kamu ga butuh aku, mending aku milih hidup aja daripada mati”
“heh ? maksudmu ?” ia menyeka sisa-sisa air matanya.
“begini, kita meninggal tidak bareng. Kamu meninggal dalam perjalanan menuju RS. Sedang aku meninggal setelah di rawat beberapa jam di RS. Di situ benar-benar pilihan yang berat. Antara hidup dan mati. Aku belum mau mati karena aku kasihan sama ayah-ibu”
“trus kenapa milih mati ?” ia cemberut.
Sahabatnya tersenyum manis dan kembali memegang pipi orang yang ada di depan, “karena aku tau, kamu takut sendirian. Kamu sering bilang, kamu selalu merasa sendiri padahal banyak orang di sekitarmu. Karena itu, aku memilih mati untuk menemanimu. Kita sahabat sampai matikan ?” sahabatnya menyodorkan jari kelingking.
Disambutnya jari kelingking itu, “kamu bener-bener beda”, Ia memeluk sahabatnya dengan bahagia.
“nah, ayo pergi. Tempat kita bukan di sini” sahabatnya mengulurkan tangan. Dan langsung disambut.
Dengan riang ia ikut. Karena ia tidak mau kehilangan orang teristimewa seperti dia. Biarlah ia kehilangan kehidupannya, asalkan bukan dia.
Ia pun meninggalkan ruang kelasnya, “selamat tinggal”. Ia menoleh pada sahabatnya, “trus kita kemana ?”
“hmmm...ke sekolah hantu mungkin” ujar sahabatnya terkekeh-kekeh.
.
.
.
.
“ini bunga untukmu” seorang cewek meletakkan bunga tulip putih di atas tempat terakhirku.
“aku ga tau bunga kesukaanmu. Karena yang ku tau kamu tidak suka dengan bunga-bungaan. Tapi semoga kamu suka dengan tulip putih ini”
Ia mulai menangis perlahan, “maaf...kalo aku bukan teman yang baik. Padahal aku sama sepertimu. Selalu merasa kesepian. Tapi aku malah membuatmu tambah kesepian. Dan aku belum mengucapkan kata maaf padamu. Tapi, kamu benar-benar beruntung punya sahabat seperti dia” ia memandang ke seberang, ke tempat terakhir sahabatku.
“hmm...ujian tinggal 1minggu lagi. Andai kamu bisa ikut bersama kami. Kami benar-benar sangat merindukanmu. Semoga kamu bahagia di sana. Kami sayang padamu”
Ia berdiri dan melangkah menjauh. Lalu ia menutupi rambutnya dengan selendang hitam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar